Peraturan Ibadah Umroh

Haji Dan Umroh – Peraturan haji sudah tak menjadi keadaan sulit lagi yaitu seharusnya bagi tiap-tiap muslim yang kapabel sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Imran ayat 97, Allah berfirman: “Dan Allah mengharuskan atas manusia haji ke baitullah bagi orang yang kapabel melaksanakannya”. Yang ditujukan dengan kapabel disini yaitu tiap-tiap muslim yang memiliki kecakapan bagus dalam hal biaya, jasmani maupun waktu. Saat sudah merasa kapabel, kemudian untuk bisa melakasnakan haji juga masih seharusnya meniru syarat, seharusnya dan rukun haji yang akan di uraikan pada sub-bab di bawah. Resumenya yaitu haji regulasinya seharusnya dan dijalankan satu kali seumur hidup.

Mengenai aturan umroh, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Hal ini yaitu hal yang sangat wajar sebab mereka juga memiliki rujukan hadits yang berbeda-beda dalam membuat rumusan kepada sesuatu. Dalam kitab Al Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah karya Syaikh ‘Abdul Rahman bin Muhammad ‘Awad al-Jaziri di sana dimuat seputar perbedaan aturan berkaitan dengan umroh. Ulama’ yang menyepakati umroh yaitu ibadah sunah muakkadah (sunah yang disarankan) yaitu Imam Maliki dan Imam Hanafi. Pendapat yang mengharuskan yaitu Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

Waktu Haji dan Umroh

Haji yaitu ibadah yang waktunya sudah ditentukan yaitu antara tanggal 9 hingga 13 bulan dzulhijjah atau yang dikenal sebagai waktu haji, musim haji maupun waktu-waktu haji. Itu artinya musim haji cuma terjadi satu kali dalam satu tahun yaitu pada sekitar 5 hari pada bulan dzulhijjah tersebut. Melainkan sebab yang menjadi prinsip dan inti dari ibadah haji yaitu wuquf di padang Arofah (al-hajju Arafatun) karenanya boleh kita beranggapan bahwa hari haji itu tepatnya jatuh pada tanggal 9 dzulhijjah itu sendiri.

Lain halnya dengan umroh. Umroh bisa dijalankan kapan saja dan cuma sunnah dijalankan sekali seumur hidup. Berkaitan dengan umroh banyak sekali pertanyaan seputar umroh, seperti apakah sekiranya umroh membatalkan haji saat dijalankan sebelum haji (saat menunggu keberangkatan haji), umroh berkali-kali pada bulan haji dan lain sebagainya.

Terlepas dari kenyataanya pada pendapat para ulama, masyarakat Indonesia cenderung mengerjakan umroh berkali-kali dengan alasan kerinduan kepada rumah Allah SWT. Selama itu tak menghasilkan beban dan menimbulkan dampak negatif para ulama setuju memperkenankan umroh berkali-kali seperti yang kerap dijalankan saat bulan-bulan haji dan bulan Ramadan.

Persyaratan Umroh

–           Beragama Islam

–           Baligh

–           Berakal Sehat

–           Merdeka (Bukan Budak)

–           Kapabel

Rukun Umroh

–           Niat Ihram & Miqat

–           Tawaf

–           Sa’i

–           Tahallul

–           Bandara

Dari Setelah Menuju Miqat

Miqat ini berlokasi di Madinah, di sini para jamaah mengerjakan persiapan sebelum ihram, mulai dari mandi, mengenakan pakaian ihram, berwudhu dan mengerjakan shalat sunnah ihram 2 rakaat.

Setelah itu niat mengerjakan ibadah umroh dengan membaca bacaan niat umroh.

Setelah mengenakan pakaian ihram, seorang jamaah umroh dilarang untuk mengerjakan hal-hal yang sudah ditentukan syariat.

Bagi pria, dilarang:

–           Menerapkan pakaian umum

–           Menerapkan alas kaki yang menutupi mata kaki

–           Menutup kepala dengan peci, topi, dan sebagainya

Bagi wanita, dilarang:

–           Menerapkan t-shirt tangan

–           Menutup mukaBagi pria dan wanita, dilarang:

–           Menerapkan wangi-wangian

–           Memotong kuku, mencukur atau mencabut rambut/bulu

–           Memburu atau mematikan binatang apa malah

–           Menikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi

–           Mermesraan atau berkaitan intim

–           Mencaci, bertengkar atau mengeluarkan kata-kata kotor

–           Memotong tanaman di sekitar Mekah

Menuju Masjidil Haram di Mekah

Dalam perjalanan, memperbanyak bacaan kalimat talbiyah yang selalu diungkapkan Rasulullah SAW saat umroh dan haji.

Akhir waktu membaca talbiyah untuk umroh yaitu saat akan memulai thawaf.

Saat thawaf.

Sebelum masuk Masjidil Haram, jamaah disarankan berwudhu terutama dahulu. Jamaah boleh masuk Masjidil Haram melalui pintu mana saja, namun disarankan meniru contoh Rasulullah SAW yang masuk melalui pintu Babus Salam atau Bani Syaibah.

Setelah masuk Masjidil Haram, disarankan untuk mengucap doa “Bismillah Wash Sholatu Was Salamu ‘Ala Rasulullah. Allahummaftahli Abwaba Rahmatika”

Artinya: “Dengan nama Allah, shalawat dan salam untuk Rasulullah. Ya Allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Setelah itu turun dan terus menuju tempat thawaf (mataf). Jamaah mulai thawaf dari garis lurus (zona dekat Hajar Aswad) antara pintu Kabah dan pertanda lampu hijau di lantai atas Masjidil Haram.

Di sini jamaah diberikan opsi antara lain:

–           Taqbil yaitu mengecup Hajar Aswad

–           Istilam dan Taqbil yaitu mengusap, meraba, dan mengecup Hajar Aswad

Istilam yaitu mengusap Hajar Aswad dengan tangan atau sesuatu benda yang kita pegang, kemudian benda tersebut dikecup

–           Melambaikan tangan atau benda yang kita pegang 3 kali, tak dikecup namun menyuarakan Bismillah, Allahu Akbar (Dengan nama Allah, Allah Maha Besar)

Salah satu opsi ritual ini dijalankan tiap-tiap kali melalui Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada putaran satu hingga tujuh. Meskipun tak kapabel mengecup Hajar Aswad dan Rukun Yamani sebab alasan keamanan dampak banyaknya jamaah yang umroh, karenanya bisa memilih istilam dengan tangan atau benda, atau cuma melambaikan tangan atau benda yang kita pegang.

Pada putaran 1-3 jamaah pria disarankan untuk lari-lari kecil.  pada putaran 4-7 dengan jalan umum. Sementara untuk tata cara umroh wanita tak ada lari-lari kecil saat mengerjakan thawaf.

Sepanjang thawaf, membaca doa saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Doa saat thawaf yang selalu dibaca oleh Rasulullah SAW yaitu doa sapu jagad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *