Akulturasi Budaya pada Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia

Sebagai negara multikultural, Indonesia telah lama toleran, yang juga tercermin dalam pembangunan masjid. Bangunan masjid di Indonesia unik karena menggabungkan budaya yang berbeda yang saling mempengaruhi atau disebut akulturasi.

Masjid Agung Demak

Bangunan Masjid Agung Demak adalah salah satu bangunan masjid tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di Desa Kauman, Desa Urban Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Didirikan sejak abad ke-15, tepatnya. Masjid ini dibangun bersama dengan Wali Songo pada masa pemerintahan raja pertama Kerajaan Demak, Raden Patah.

Akulturasi Budaya pada Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia

Saat itu, Masjid Agung Demak menjadi simbol penyebaran Islam di Jawa. Seperti dilaporkan di situs web Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kerajaan Demak didirikan ketika pengaruh Hindu dan Budha di Nusantara masih kuat. Karena itu, Kerajaan Demak harus beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang berlaku dalam penyebaran agama Islam.

Salah satu penyesuaian ini dapat dilihat pada akulturasi budaya di gedung masjid, yang menghubungkan budaya Hindu dan Islam. Tujuannya agar Islam dapat diterima oleh masyarakat karena tidak mengubah apa pun yang sudah ada.

Bentuk akulturasi di Masjid Agung Demak dapat dilihat dari atap tiga tingkat, yang menunjukkan gambaran bermakna keyakinan Islam, yaitu, Iman, Islam, dan Ihsan. Kemudian pintu masjid nomor lima dinomori sebagai simbol rukun Islam, sedangkan jendela nomor 6 melambangkan rukun iman. Ada juga wastafel di sekitar masjid, yang F.F. Pijper mewakili kelanjutan bentuk candi.

Masjid Menara Kudus

Di Jawa Tengah kita masih menuju Kudus, tepatnya di desa Kauman, Kabupaten Kota. Ada juga masjid bersejarah yang menunjukkan akulturasi budaya Islam dan Hindu.

Namanya adalah Masjid Al Aqsa atau yang populer disebut Masjid Menara Kudus. Masjid ini dibangun pada 1549 oleh Sunan Kudus.

Bentuk akulturasi Hindu Islam menjadi terlihat ketika seorang pelancong memasuki kompleks masjid. Wisatawan sebentar disambut dalam bentuk gerbang kuil. Kemudian traveler melihat Paduraksa yang berbentuk gerbang di serambi masjid dan di halaman utama masjid.

Yang unik adalah Masjid Menara Kudus memiliki menara yang terbuat dari batu bata merah. Menurut Tjandrasasmitra dalam bukunya Indonesia in History: The Arrival and Civilization of Islam, Menara Kudus pada awalnya bukan bangunan menara, melainkan bangunan mirip candi dalam bentuk Kulkul di Bali.

Menara setinggi 18 meter ini dibangun tanpa lem semen, tetapi menggunakan teknik gosok atau disebut Kosod. Dinding menara dihiasi dengan 32 piring keramik di mana bunga, masjid, orang dan unta serta pohon kurma digambarkan.

Ada juga wudhu yang menunjukkan akulturasi dengan Buddha. Jumlah 8 kamar mandi mengadopsi keyakinan Buddhis Asta Sanghika Marga atau delapan cara kebenaran.

Masjid Agung Banten

Bentuk lain dari Masjid Akulturasi adalah Masjid Agung Banten, yang dibangun antara 1552 dan 1570. Masjid ini didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin, yang pada waktu itu menyebarkan agama Islam di Banten.

Akulturasi di masjid ini merupakan perpaduan budaya Islam dengan Belanda. Itu bisa dilihat dari menara masjid putih hingga 24 meter dalam bentuk segi delapan. Bentuknya menyerupai mercusuar di Belanda.

Sentuhan Belanda juga bisa dilihat di bangunan masjid segi delapan. Pintunya juga melengkung di bagian atas. Di dalam gedung ada tangga spiral dan puncak menara memiliki dua tingkat.

Tidak berhenti sampai di situ, traveler juga bisa melihat paviliun yang gaya arsitekturnya menyerupai bangunan Eropa dengan jendela-jendela besar. Paviliun ini sendiri merupakan perpanjangan dari bangunan baru yang didirikan oleh arsitek Belanda pada abad ke-18.

Selain akulturasi dengan budaya Belanda, ada juga sentuhan budaya Cina. Itu terlihat dari atap bangunan utama, yang ditumpuk pada lima seperti pagoda Cina. Ada dua versi untuk perencanaan bangunan ini. Ada yang bilang arsiteknya adalah keturunan Cina dengan nama Tjek larangan Tjut, sementara versi lain menyebutkan Raden Sepat oleh Demak, yang mendesainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *